Office :
Jl. M.H. Thamrin 12 Surabaya 60264
Telp. (031) 5684955, 5683021
Fax. (031) 5684955, 5676475

Laporan Kegiatan

Indonesia Menuju Redenominasi Rupiah 2015: Sudah Siapkah ?

    Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Surabaya Koordinator Jawa Timur bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga telah menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Indonesia Menuju Redenominasi Rupiah 2015: Sudah Siapkah?”, pada hari Kamis, 14 Maret 2013 pukul 08.00 – 12.45 WIB di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Jl. Airlangga 4 Surabaya.
Acara seminar ini diawali sambutan Ketua ISEI Cabang Surabaya, Muljanto, SE, MM, dilanjutkan sambutan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, yang diwakili oleh Wakil Dekan I, Dr. Rudi Purwono, SE, M.Si. Selesai sambutan pembukaan, dilanjutkan dengan Seminar “Indonesia Menuju Redenominasi Rupiah 2015: Sudah Siapkah ?”  dimulai pukul 09.15 – 12.45, dengan menampilkan pembicara, moderator  dan subtema sebagai berikut :


Pembicara :
1.  Dr. Iskandar Simorangkir, SE, MA 
     (Direktur Eksekutif Bank Indonesia)
      Sub tema : Redenominasi Rupiah Sebagai sebuah Kebijakan yang pantas, tepat dan relevan untuk menyongsong pertumbuhan ekonami Indonesia di masa depan
2. Dr. Wasiaturrahma (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR)
      Sub tema : Implementasi strategis dan operasionalisasi Redenominasi Rupiah di Indonesia. 
3.  Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika, MSc., PhD
     (Direktur Eksekutif INDEF / Guru Besar Ilmu Ekonomi
     Kelembagaan FEB Universitas Brawijaya)
     Sub tema : Redenominasi Rupiah: Benarkah merupakan sebuah kebijakan yang bijak
     dan  dipersiapkan dengan mantap?
4.  Wisjnubroto, SH (Ketua PUSURA)
      Sub tema : Redenominasi Ditinjau dari Perspektif Politik, hukum, Sosial, Budaya dan psikologi
Moderator :
Dr. Soni Harsono, SE, M. Si  (Dosen STIE Perbanas Surabaya)   
    Kegiatan Seminar ini dilatarbelakangi oleh rencana Bank Indonesia untuk melakukan redenominasi rupiah. Redenominasi rupiah dinilai tepat jika dilaksanakan pada saat kondisi ekonomi Indonesia stabil. Hal ini berkaitan dengan syarat keberhasilan dalam melakukan redenominasi yaitu kondisi perekonomian yang stabil, tidak mengalami tekanan inflasi dan nilai tukar rupiah dalam kondisi normal.
    Redenominasi adalah menyederhanakan denominasi (pecahan) mata uang menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi digit (angka nol) tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Penyederhanaan tersebut harus dilihat dari berbagai perspektif, tidak hanya perspektif ekonomi, tetapi juga perspektif politik, sosial, budaya, hukum, dan psikologi.
    Selama ini redenominasi lebih banyak dilihat dari perspektif ekonomi, sedangkan perspektif lainnya, seperti politik, sosial, budaya, hukum dan psikologi kurang begitu diperhatikan bahkan diabaikan. Redenominasi tidak hanya berdampak terhadap kondisi ekonomi, tetapi juga berpengaruh pada kondisi politik, lingkungan sosial masyarakat, dan adanya budaya “baru” di masyarakat serta perubahan perilaku masyarakat.
    Kebijakan redenominasi rupiah akan dijalankan tahun 2015. Di berbagai media massa nampak jelas optimisme yang ditunjukkan oleh Bank Indonesia dan Kementrian Keuangan Republik Indonesia. Bahkan dengan tegas  kedua institusi pemerintah tersebut menyatakan siap untuk melaksanakannya.
    Di lain pihak, banyak pula yang menyangsikan keberhasilan dari kebijakan ini. Kesangsian berbagai pihak tersebut terkait dengan adanya tiga syarat baku bagi keberhasilan  kebijakan redenominasi rupiah, yaitu: Pertama, kondisi perekonomian yang stabil. Apakah ada jaminan bahwa kondisi perekonomian Indonesia di tahun 2015 akan stabil? Pengalaman mencatat bahwa 2 tahun pertama sejak terjadinya pergantian presiden di Indonesia mengakibatkan suhu politik makin memanas dan hal itu sangat berpotensi menciptakan ketidakstabilan dalam perekonomian Indonesia.
    Kedua, tidak mengalami  tekanan inflasi.  Diprediksikan bahwa  tingkat inflasi di Indonesia di masa mendatang akan sangat fluktuatif. Hal ini disebabkan oleh lambatnya pertumbuhan produksi barang di dalam negeri, sementara pemasukan barang dari luar negeri semakin meningkat.  Kondisi ini akan memicu naiknya permintaan agregat melebihi penawaran agregat, sehingga menimbulkan tekanan terhadap inflasi.
    Ketiga, nilai tukar rupiah dalam kondisi normal. Terdapat banyak keraguan dari kalangan pelaku bisnis dan pengambil keputusan di Indonesia khususnya yang berkait dengan perdagangan internasional. Kecenderungan transaksi berjalan yang semula surplus menjadi defisit dalam satu tahun terakhir ini dapat berpotensi menurunkan nilai tukar rupiah.
    Menyikapi hal-hal tersebut, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Surabaya Koordinator Jawa Timur merasa perlu untuk menyelenggarakan kegiatan yang dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada masyarakat tentang kebijakan redenominasi rupiah. Untuk itulah diselenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Indonesia Menuju Redenominasi Rupiah: Sudah Siapkah?” 
Acara ini dihadiri oleh sekitar 120 orang peserta, yang berasal dari  berbagai kalangan, yaitu: institusi pemerintah (Dinas-dinas dan SKPD di lingkungan Pemerintah Propinsi Jawa Timur); Pimpinan perusahaan BUMN dan swasta yang ada di Jawa Timur; Perbankan (Bank Jatim, Bank Indonesia, Bank Umum dan BPR di seluruh Jawa Timur); Para pengusaha; Perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang ada di Jawa Timur; Asosiasi-asosiasi profesi; dan Pengurus/anggota ISEI Cabang Surabaya Koordinator Jawa Timur.  Acara ini diliput oleh beberapa media baik media cetak maupun elektronik. Acara berakhir dengan makan siang bersama pada pukul 12.45.